Halo pengunjung,bertemu lagi dengan saya. Saat ini saya akan membahas percabangan filsafat yang saya sudah pelajari sebelumnya. Check it out!
Pencabangan Filsafat
•
Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu
pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis.
•
Pengetahuan manusia: makin luas dan bertambah
banyak, tapi makin khusus.
•
Disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat.
•
Namun masalah pokok filsafat makin banyak, maka
perlu dibagi sesuai kelompok permasalahan, yang disebut cabang filsafat.
Pembagian Cabang Filsafat Secara Umum
- Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
- Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi metafisik,
Antropologi
- Logika:
Ilmu berpikir kritis
- Etika:
Filsafat tingkah laku
- Estetika:
Filsafat keindahan
- Aksiologi:
Filsafat Nilai
- Filsafat Khusus berbagai disiplin ilmu: Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum,
Fils. Ekonomi, dll.
Epistemologi
•
Etimologis:
episteme (pengetahuan), logos (kata, pikiran, percakapan, ilmu)
•
Epistemologi:
kata, pikiran, percakapan ttg pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
•
Pokok
persoalan: sumber, asal mula, sifat dasar, batas, jangkauan, validitas.
TIGA JENIS
PENGETAHUAN
•
Pengetahuan
biasa: pra-ilmiah, krn hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran
rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya.
•
Pengetahuan
ilmiah: diperoleh lewat metode ilmiah dan dpt dijamin kepastian
kebenarannya.
•
Pengetahuan
filsafati: pemikiran resional yang didasarkan pada pemahaman dan
pemikiran logis, analitis dan sistematis.
Sumber-Sumber Pengetahuan
•
Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz: akal
budi atau rasio.
•
Bacon, Hobbes, Locke: pengalaman
inderawi.dan bersifat aposteriori..
•
Immanuel Kant: Walau ide dan konsep
apriori, ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. Dkl: akal budi
manusia bisa berfungsi bila dihubungkan dengan pengalaman.
Argumen Para Filsuf
v
Penganut skeptisisme: segala sesuatu
dapat saja disangsikan kebenarannya. Pegangannya ungkapan Sokrates: “Apa yang
saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa
v
Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme
sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, krn
tidak ada yang benar-benar dpt diketahui dg pasti.
v
J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill
(1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan
tertentu yang sudah pasti.
v
David Hume (1711-1776): serang dasar
pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dpt dibenarkan scr
rasional.
v
Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah
presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat
mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati
v
Albert Camus (1913-1960): Manusia
berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya,
tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
Kesahihan Pengetahuan
•
teori kesahihan pengetahuan:
o
koherensi: proposisi diakui sahih bila ia
memiliki hubungan dengan gagasan proposisi sebelumnya yang sahih.
o
korespondensi: pengetahuan sahih, bila
proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian
inderawi.
o
pragmatis: pengetahuan sahih bila
proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
o
logikal: memiliki term berbeda, tapi
berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi
Metafisika
•
Meta ta physika = sesudah fisika.
Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua
(fisika).
•
Arti metafisika:
·
upaya mengkarakterisasi realitas sbg
keseluruhan.
·
usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di
balik realitas.
·
pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai
seluruh realitas atau segala sesuatu yang
ada.
Pembagian
metafisika: Metafisika umum dan
metafisika khusus
Metafisika Umum
(Ontologi)
•
Membahas segala sesuatu yg ada secara
menyeluruh dg cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
•
Pertanyaan utama: apakah realitas yang tampak beraneka
ragam itu pd hakekatnya satu atau tidak?
•
Tiga teori ontologis:
§
=idealisme: ada sesungguhnya
berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr
yang sesungguhnya.
§
Materialisme: menolak hal yg tak
kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material.
Realitas ialah alam kebendaan.
§
Dualisme: tipe fundamental substansi
adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr
fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (àteori
ttg jumlah substansi).
Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
Teologi
metafisik: dikenal dg theodicea yg membahas kepercayaan pd Allah di
tengah realitas kejahatan yg merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama.
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah
ada dg bukti rasional sbb:
ü
Argumen ontologis: semua manusia punya
ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas
adanya pasti lebih sempurna dr ide manusia ttg Tuhan.
ü
Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya
sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
ü
Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya.
Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
ü
Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt
membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
ü
Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu
dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu
yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
ü
David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar
sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
ü
L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat
manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari
apa yang diinginkan manusia.
ü
F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen
adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan
Allah itu sudah mati.
ü
Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama,
yaitu a) penguasa alam, b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg
mengerikan, c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
AKSIOLOGI
Secara etimologi, aksiologi berasal dari
kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios berarti nilai dan logosberarti
ilmu. Nilai berkaitan dengan kegunaan. Berarti, aksiologi merupakan
cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan
ilmunya. Aksiologi sebagai ilmu yang membicarakan tujuan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Pengertian lain, aksiologi adalah kajian tentangkegunaan ilmu pengetahuan bagi
kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.Selain
itu, Suri Sumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa aksiologi adalah bagian dari filsafat yang
menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah,
serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.Aksiologi merumuskan suatu teori yang
konsisten mengenai perilaku etis.
Berbicara mengenai pengetahuan, pengetahuan manusia itu
cukup luas. Dari pengetahuan tersebut diharapkan memiliki sesuatu yang berguna
bagi pemiliknya.
Aksiologi memberikan jawaban untuk apa
pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan, bagaimana kaitan antara
cara pengetahuan dengan kaidah – kaidah nilai, dan bagaimana penentuan obyek
yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang
dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang
dinilai. Contohnya saat kita mendengarkan musik, kita menilai musik tersebut
bagus atau tidak.
Aksiolog
membedakan “yang ada” dengan nilai, dan membedakan fakta dan nilai.
Untuk menjelaskan lebih jauh apa itu nilai, kita perlu
mengetahui apa itu fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada
secara nyata, berlangsung begitu saja. Sedangkan, nilai sebagai
sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau mengimbau kita.
Perbedaan fakta dengan nilai, yaitu:
o
Nilai berperanan dalam suasana apresiasi,
sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi.
o
Fakta dapat dilukiskan secara objektif.
Misalnya, letusan gunung Merapi. Letusan dapat mempunyai nilai bagi seseorang,
tetapi tidak bagi yang lain.
o
Fakta selalu mendahului nilai.
Maka, ada 3 ciri ciri nilai:
1.
Nilai berkaitan dengan subjek
2.
Nilai tampil dlm konteks praktis
3.
Nilai menyangkut sifat yang ditambah
oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.
Macam macam nilai:
Ø
Nilai ekonomis: berdasarkan hukum ekonomi.
Ø
Nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu
yang indah.
Setiap nilai memperoleh bobot moral bila
diikutsertakan dalam tingkah laku moral. nilai moral dapat menjadi kosong, bila
tidak diikutsertakan dengan nilai lain seperti nilai ekonomis. Contohnya,
Kerajinan seseorang saat bekerja dapat menjadi tidak berarti bila tidak
diapresiasi oleh bosnya.
Nilai dibagi dalam 4 kelompok, yaitu:
I.
Nilai yg menyangkut kesenangan dan
ketidaksenangan terdapat dalam objek
II.
Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus,
kasar, luhur dll,
III.
Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek)
benar salah
IV.
Nilai Religius seperti yg kudus dan tidak kudus,
menyangkut objek absolut.
Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut:
nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dari
nilai vital.
Nilai moral memiliki ciri – ciri nilai, antara lain:
o
Berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia.Berkaitan
dengan hati nurani
o
Mewajibkan, misalnya nilai moral mewajibkan
secara absolute
o
Bersifat formal: tidak ada nilai moral yang ‘murni’
terlepas dari nilai lain.
Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk
menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan
pribadi kita.
Nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri. Nilai
butuh pengemban untuk berada. Nilai tampak pada kita seolah olah hanya
merupakan kualitas dari pengemban nilai. Contohnya, keindahan dari lukisan, dan
kegunaan dari sebuah peralatan. Jadi, nilai itu bukan merupakan benda atau
unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas yang dimiliki objek tertentu yang
dikatakan ‘baik’.
Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: Etika
(Filsafat Etika),dan Estetika (Filsafat keindahan).
Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan
konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang
mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni,
apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal
karya besar seni
Nilai memiliki 2 sifat : obyektif dan subyektif.
Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak
tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan
berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian. Kebenaran
tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada
obyektivitas fakta.
Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam
memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya. Dengan demikian,
nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi
manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka,
senang atau tidak senang.
Peranan nilai bagi kita, yaitu:
Peranan nilai bagi kita, yaitu:
- Nilai
merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
- Nilai
mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk
dirinya melalui tindakan-tindakannya.
- Menata
hubungan sosial dalam masyarakat.
- Memperkuat identitas kita sebagai manusia
(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan II)
Oke,sampai disitu dulu pembahasan kita. Semoga bermanfaat untuk para pengnjung.
Sampai bertemu lagi,Salam.


