Halo homo sapiens,bertemu lagi dengan saya yang tidak pernah bosan berbagi pengetahuan tentang pembelajaran yang saya terima. Penasaran kan materi saat ini?! Let's see!
Subjektivisme
Rene Descartes. Beliau menyatakan sebuah kalimat Filsafat yang sangat terkenal "Corgito Ergo Sum" yang berarti "Saya berpikir maka saya ada". Rene Descartes menekankan kepada segala sesuatu berasal dari pemikiran subjek.
Kaum Realisme juga berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya. Pernyataan itu didukung oleh Kaum Idealisme yang berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Dalam Teori Subjetivisme ini, semua pengetahuan yang "bukan aku" atau berasal dari "luar diri sendiri" diragukan kebenarannya. Rene Descartes adalah seorang rasionalis yang memiliki pemikiran bahwa rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Beliau meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita. Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data indra dalam kesadaran kita tanpa harus ada “dunia luar” yang mendasarinya. Beliau masuk ke dalam posisi ekstrim yang disebut Solipsisme (ia sendiri pada dirinya).
Aku sadar dan kenal diriku justru berdasarkan kesadaran dan pengenalan yang bukan aku. Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subjek dalam dialog.
Objektivisme
Objektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia yang mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu. Objektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Teori tersebut diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahaminya.
3 pandangan dasar Objektivisme :
1. Kebenaran itu independen dan terlepas dari pandangan subjektif
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Teori Objektivisme ini didukung oleh seorang tokoh Filsafat yang terkenal, yaitu Karl Popper,Menurutnya pengetahuan dalam pengertian objektif adalah pengetahuan tanpa orang atau pengetahuan tanpa diketahui subjek.
Berikut adalah beberapa syarat yang harus dipenuhi di dalam Teori Objektivisme :
1. Objek harus sesuai dengan jenis indera kita
2. Organ indera harus normal dan sehat
3. Karena objek ditangkap melalui adanya medium, maka meduim harus ada.
Objek juga dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
Objek Khusus : data yang ditangkap hanya oleh satu indera (warna, bau, suara)
Objek Umum : data yang ditangkap oleh lebih dari satu indera (ketika menonton film, kita dapat mendengar suara menggunakan telinga, melihat gerak dan warna menggunakan mata)
Konfirmasi, Inferensi, dan Konstruksi Teori
Konfirmasi
Adalah cara penguatan atau penegasan mengenai apa yang didapat dari kenyataan. Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi). Konfirmasi dibedakan menjadi 2 aspek, yaitu:
1. Metode kuantitatif adalah metode penelitian dengan menggunakan sampel sebanyak mungkin dan akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum.
2 Metode kualitatif adalah metode penelitian dengan menekankan pada teknik wawancara secara lebih mendalam (Depth interview).
Berikut terdapat 3 jenis konfirmasi :
1. Decision Theory : kepastian berdasarkan adanya suatu keputusan
2. Estimation Theory : menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar dan salahnya melalui metode probabilitas.
3. Reliabilty Theory : menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
Inferensi
Inferensi adalah suatu proses penarikan konklusi (kesimpulan) dari satu atau lebih proporsi (keputusan).Pada dasarnya, inferensi bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergereak kepada pengetahuan baru. Penarikan kesimpulan dibedakan menjadi 2 cara, yaitu:
a. Deduktif adalah penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum lalu ke khusus. Metode tersebut biasanya berpangkal pada pembuatan premis-premis lalu ditarik kesimpulan secara umum.
b. Induktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus ke umum. Metode induktif biasanya berpangkal pada peluang-peluang benar salahnya suatu hal dengan prinsip probabilitas.
Inferensi juga dibedakan menjadi 2,yaitu :
1. Inferensi langsung adalah penarikan kesimpulan hanya berdasarkan satu premis. Premis pada inferensi langsung adalah data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
2. Inferensi tidak langsung adalah penarikan kesimpulan berdasarkan dua premis. Premis pada metode ini merupakan proporsi yang digunakan untuk membuat konklusi.
Hukum-Hukum Inferensi
Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Konstruksi
Konstruksi adalah suatu teori atau pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan suatu peristiwa. Konstruksi seakan-akan menjadi jendela untuk mengamati gejala yang ada berdasarkan dapat empiris yang berhasil dianalisa dan disintesakan.
Konstruksi memiliki 2 kutub.
1. Kutub teori sebagai hukum eksperimental. Misalnya, hukum Mendel tentang keturunan yang bisa langsung diuji lewat observasi.
2. Kutub teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori Relativitas Einstein.
Pengelompokan pengembangan ilmu pengetahuan dibagi menjadi 3 periode,yaitu:
1. Animisme : periode percaya terhadap mitos
2. Ilmu Empiris : tolak ukur ilmu paling sederhana adalah pengalaman
3. Ilmu Teoritis : gejala dalam ilmu empiris diterangkan melalui kerangka berpikir.
Model konstruksi :
a. Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
b. Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu dan mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif dan kebenaran moral/ nilai.
c. Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola hubungan yang beragam dengan menyederhanakan yang kompleks.
Aliran-aliran Konstruksi :
1.Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tidak dapat diamati secara empiris, dan tidak dapat diuji langsung.
2. Instrumentalisme: teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
3. Realisme: teori dianggap benar bila benar-benar ada sesuai dengan kenyataan.
Logika
Logika adalah cabang filsafat yg mempelajari aturan formal serta kriteria yang sesuai dengan fakta (valid) bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Objek dalam logika dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Objek material adalah manusia itu sendiri.
b. Objek formal adalah akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
Manfaat belajar logika :
-Membantu setiap orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
-Meningkatkan kemampuan nalar secara abstrak.
-Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
-Menambah kecerdasan berpikir sehingga menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan
Sejarah Logika
Istilah "logika" pertama sekali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Aristoteles menggunakan istilah "analitika", namun argumentasinya tetap berangkat dari proposisi yang benar. Logika tradisional membahas seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.
Macam-macam logika :
1. Logika kodrati : suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
2. Logika ilmiah : berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat sehingga kesesatan dapat dihindari dan dipertangungjawabkan secara rasional.
3. Logika formal (minor) : logika yang memperhatikan penyusunan pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan.
4. Logika Material (mayor) : logika yang membahas mengenai kebenaran isi. Argumen dikatakan benar apabila pernyataan yang membentuk argumen sesuai dengan kenyataan.
Critical Thinking
Berpikir secara kritis adalah merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati / memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.
Karakteristik berpikir kritis :
1. Rasional, Reasonable, Reflektif : Pemikiran harus didasrkan pada adanya fakta atau bukti-bukti yang memperkuat adanya suatu pernyataan dan bukan berdasarkan keinginan pribadi.
2. Melihatkan sikap skeptis yang sehat dan konstruktif : Tidak menerima ataupun menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut. Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
3. Otonomi : Tidak mudah dimanipulasi karena memang berasal dari pemahaman dan pemikiran dalam diri kita sendiri.
4. Kreatif : Menciptakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang sifatnya baru dan asli dengan cara menggabungkan pemikiran dan konsep-konsep yang ada.
5. Adil : Seseorang yang berpikir secara kritis harus bisa menciptakan suatu argumen atau pernyataan yang sifatnya tidak memihak pada kepentingan tertentu.
6. Dapat dipercaya dan dilakukan : Seseorang yang memiliki critical thinking harus dapat melakukan observasi yang benar-benar dapat dilakukan dan kesimpulan yang diberikan dapat dipercaya.
5 model dalam berpikir kritis (THINK) :
T : Total Recall
kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran. Total Recall erat sekali hubungannya dengan memori yang dimiliki seseorang. Namun, biasanya seseorang akan menerapkan cara berupa pengelompokan kata / angka ke dalam suatu bagian sehingga memudahkan proses untuk mengingat.
H : Habits
pendekatan berpikir yang sering kali diulang-ulang sehingga melakukan sesuatu tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu.
I : Inquiry
memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal yang terlihat nyata. Teknik berpikir secara inquiry termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu untuk menegakkan suatu kesimpulan.
N : New Ideas and Creativity
Seseorang yang berpikir kritis selalu akan memunculkan ide-ide yang baru dan berpikir secara lebih kreatif dalam segala situasi. Critical thinking menghasilkan seorang individu yang selalu berbeda di antara kumpulan orang yang ada.
K : Knowing how you think
Berpikir mengenai bagaimana cara seseorang dapat berpikir. Artinya, seseorang yang berpikir kritis akan mengupas lebih dalam lagi mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kehiduan ini
Logika (Induksi dan Deduksi)
Dalam memperoleh pengetahuan, biasanya induksi mendahului deduksi. Sedangkan, di dalam logika biasanya deduksi mendahului induksi. Hal tersebut dikarenakan deduksi dipandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran.
Penalaran Induktif
Berpikir secara induktif artinya cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atas dasar fakta untuk menarik kesimpulan umum.
Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penalaran induktif merupakan proposisi empiris yang ditangkap indera
2) Kesimpulan lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional, yaitu probabilitas.
Generalisasi Induktif
adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala tertentu untuk menarik kesimpulan umum.
Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tidak terbatas secara numerik atau tidak terikat pada jumlah tertentu
2) Harus dapat berlaku dimana saja
3) Dapat dijadikan dasar pengandaian.
Analogi Induktif
proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yg lain yg punya sifat esensial yg sama (atas dasar persamaan)
Kebenaran konklusi dalam logika induktif, baik dalam analogi maupun generalisasi bersifat tidak pasti, karena hanya bersifat mungkin (probabel).
Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh :
(1) faktor
fakta : semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya,
(2) faktor
analogi : semakin besar jumlah faktor analogi dalam premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya,
(3) faktor
disanalogi : semakin besar faktor disanalogi dalam premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya,
(4) faktor luas
konklusi : semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya.
Hubungan sebab akibat merupakan salah satu bentuk penalaran induksi.
Hubungan sebab akibat memiliki 3 pola, yaitu :
1. Hubungan sebab ke akibat
dompet yang berisi uang hilang (sebab) maka anda tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan (akibat). Jadi “uang hilang” merupakan sebab dan “tidak jadi membeli sepatu” merupakan akibat.
2. Hubungan akibat ke sebab
Suatu hari saya bersama teman-teman hendak pergi berlibur ke Puncak. Karena mobil bus sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi di mana saya bisa mengendarainya dengan santai dan tidak berhimpitan dengan lainnya. Ketika dalam perjalanan mobil yang saya kendarai mengalami gangguan dan akhirnya mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang menjadi sebabnya.
3. Hubungan akibat ke akibat
Dalam perjalanan pulang kuliah, saya melihat jalan yang becek. Saat sampai di rumah saya melihat sekitar halaman basah. Kemudian, saya teringat pakain yang saya jemur di pagi hari. Saya langsung berpikir bahwa pakaian tersebut pasti sudah basah. Pakaian menjadi basah bukan disebabkan jalanan becek dan halaman rumah yang basah, melainkan karena hujan. Kedua gejala yang terjadi tersebut, yaitu jalanan becek dan halaman rumah basah serta pakaian yang dijemur basah sama-sama merupakan akibat dari penyebab yang tidak saya pikirkan lagi, yaitu hujan yang turun.
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif selalu diungkapkan melalui metode penarikan kesimpulan secara silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis untuk ditarik suatu kesimpulan. Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan .
Ciri-ciri Silogisme :
1. Semua pernyataannya adalah proposisi kategoris.
2. Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3. Dua premis dan satu kesimpulan secara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi
Contoh Silogisme :
Premis Mayor : semua anjing di rumah memiliki taring
Premis Minor : piko adalah nama anjing di rumah
Kesimpulan : piko punya taring.
(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat materi IV)
Wah cukup membuat kepala berasap yaa?hahaa. Keep strong for study philosophy.
Semoga berguna,Salam Homo Sapiens