Senin, 06 Oktober 2014

Filsafat Pertemuan ke-8

Manusia dan Afektifitas

Afektivitas yang membuat manusia 'berada' di dunia, berpartisipasi dengan orang lain,.
Afektivitaslah yang mendorong orang untuk mencintai.

Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda menurut bagaimana subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yang berbeda-beda ini disebut 'hasrat-hasrat jiwa' (Thomas Aquinas)

Afektivitas sering disamakan dengan kesanggupan merasa, padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut hal tersebut saja, tetapi menyangkut hal spiritual juga.

Apa yang merupakan perbuatan afektif?

Perbuatan afektif sedikit memiliki kemiripan dengan 'perbuatan mengenal' karena dianggap perbuatan vital/imanen.
Akan tetapi afektif berbeda dengan 'perbuatan mengenal' karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan 'perbuatan mengenal' itu lebih membuka diri.

Catatan tentang cinta diri, sesama, dan Tuhan

Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka hal itu tidak baik.
Padahal cinta diri sendiri dapat ditemukan pada orang - orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh - sungguh...
Maksudnya disini adalah jika kita mencintai seseorang yang kita cintai dengan sungguh - sungguh maka kita pun mencintai diri kita sendiri..

Pertanyaannya adalah jika kita mencintai Tuhan dengan seluruh jiwa/hati, tidakkah itu sama dengan mengasingkan dari diri sendiri?
Jawabannya : Tidak....
Tuhan itu transenden dan imanen
Transenden = jauh melampaui pikiran kita
Imanen = dekat dengan kita
St. Agustinus berkata bahwa Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing - masing.



Kebebasan

Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas..
Karena ada jiwa maka manusia merupakan suatu makhluk yang bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia.

Apakah arti kebebasan?
- Pengertian Umum-
Kebebasan artinya tidak ada paksaan, hambatan , halangan , aturan

- Pengertian Khusus-
Sebagai penyempurnaan diri
Kesanggupan dalam memilih dan memutuskan
Kemampuan mengungkapan berbagai dimensi kemanusiaan ( hak - hak dasar manusia)

Sejarah Perkembangan Masalah Kebebasan
 *Abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
 *Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan menjadi perspektif antroposentrik
 *Era kontamporer, kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
 *Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

Jenis Kebebasan :
-Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan)
-Kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
-Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia)
-Kebebasan sosial (terkait dengan orang lain)
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis, dan normatif

Terdapat empat alasan pembatasan kebebasan sosial :
*menyertakan pengertian
*memberi ruang bagi kebebasan eksistensi
*menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
*terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial

Pandangan Determinisme
Aliran ini menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa lainnya.

Kelemahan determinisme :
- menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia
Paradoks = pernyataan yang bertentangan
- menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
- meniadakan adanya tanggungjawab

Berikut akan saya berikan kasus paradoks :
Kesepian di tengah keramaian
Lonely in the crowd. Mungkin kita pernah merasakan kondisi yang seperti ini. Misalnya : Ketika saat kita pergi ke mall, suasana disana ramai dan sangat meriah karena ada performance show. Namun, kita tidak menikmati hal itu. Kita merasa kesepian di tengah keramaian orang - orang di mall tersebut.
Hal ini merupakan contoh salah satu kasus paradoks dalam kehidupan kita.

Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia. Apakah argumennya?
- Manusia hidup diperhadapkan dengan pilihan - pilihan
- Adanya tanggung jawab
- Adanya perbuatan moral

(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan ke VIII)

Sumber : Power Point Pertemuan  yang dibuat oleh Tim Dosen KBK Filsafat Universitas Tarumanagara

Minggu, 28 September 2014

Tugas Dialog Interaktif Tubuh dan Jiwa

Hai customers, kembali saya iningin membagi tugas yang sudah kami kerjakan,ini tugas kelompok yaa.


Itulah tugas yang sudah kelompok Fantastic Four kerjakan. semoga berguna untuk kalian. Salam Jumpa.

Filsafat Hari ke-7

Badan dan Jiwa

satu kesatuan yangg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

Ada dua aliran yang melihat badan dan jiwa secara bertolak belakang:
1. Monisme
-aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yangg terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.

-Tiga bentuk aliran Monisme :
a. Materialisme
b. Teori Identitas
c. Idealisme

2. Dualisme
-Badan dan jiwa adalah dua elemen yg berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.

-Ada empat cabang dalam Dualisme
a. Interaksionisme
b. Okkasionalisme
c. Parallelisme
d. Epifenomenalisme

Ada beberapa pandangan...
-Pandangan monisme bertentangan dengan hakekat manusia sesungguhnya. Plato berkata, badan dan
jiwa punya sifat yg berbeda. Badan sementara, jiwa abadi. Kelemahan materialisme= tdk bisa melihat bahwa pengalaman bersifat personal.
-Pandangan dualisme, khususnya paralelisme yg mengatakan badan jiwa dua hal yg terpisah,
tidak terkait, sulit diterima. Perbuatan baik muncul dr niat yang baik. Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani sekaligus.

Badan manusia
Badan = elemen mendasar dlm membentuk pribadi manusia. Apa pengertian badan? Pandangan tradisional, badan=kumpulan berbagai entitas material yg membentuk makluk. Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tdk memberikan pandangan utuh ttg manusia. Badan hrs dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah
membicarakan diri (Gabriel Marcel).

Jiwa manusia
Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
Tokoh :
James P Pratt: menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia. Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan. Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus. Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan. Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.
Agustinus: manusia hanya bs melakukan penilaian thdp tindakannya krn dorongan dr jiwa. Jiwa mendorong manusia utk melakukan hukum-hukum moral yg diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dlm diri seseorg. Kemampuan jiwa menunjukkan bahwa kegiatan manusia bukan mekanistik.

SIMPULAN: Realitas manusiawi – realitas prinsipial terbentuk dr dua elemen, yaitu material dan spiritual. Badan dan jiwa = satu kesatuan yg membentuk eksitensi manusia. Jiwa tdk bs berfungsi baik kalau tdk ada badan. Badan manusia bukan mekanistik, tapi dinamika dari jiwa itu sendiri.

(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan ke VII)


Filsafat Hari ke-6

Halo rakyat Indonesia,kembali lagi bersama saya. Semoga kalian tiada bosan untuk mengikuti terus materi yang saya bagi. saat ini ada tema baru yang amat seru. check it out!

Etika dan Moral


Etika
berasal dari kata Yunani, ETHOS = Watak. Sedangkan moral berasal dari kata latin : Mos (tunggal), moris (jamak) yang artinya kebiasaan.
-Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia.
-Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

Menurut Bertens : Etika berasal dari bahasa Yunani kuno ethos dalam bentuk tunggal, artinya adat kebiasaan, adat isthiadat, akhlak baik.
a.Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misal: Etika orang Jawa.
b.Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik, misal : Kode Etik Advokat Indonesia, Kode Etik Notaris Indonesia.
c.Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.


Menurut Kamus besar bahasa Indonesia :
1.Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (Akhlak)
2.Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3.Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat


Etika dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.ETIKA Perangai
Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula.
2.ETIKA Moral
Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia.


Arti Etika
a.Etika sebagai ilmu
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
b.Etika sebagai kode etik
Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
c.Etika sebagai sistem nilai
Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.


Objek Material & Objek Formal Etika

1. Objek material adalah suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
Objek material etika : tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).


2. Objek formal = cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
Objek formal etika = kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau tidak bermoral).


Berdasarkan kajian ilmu,etika dibagi 2,yaitu
a.Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
b.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dan lain-lain.

Apa sih gunanya kita belajar etika?
1.Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
2.Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

Sistematika Etika

De Vos (1987)
Etika :
-Etika deskriptif
1.Sejarah kesusilaan
2.Fenomenologi kesusilaan
-Etika normatif

K.Bertens (1993)
Etika :
-Etika deskriptif
-Etika normatif
1.Etika umum
2.Etika khusus
-Metaetika

Frans Mangis-suseno (1991)
Etika :
-Etika umum
-Etika khusus
1.Etika individual
2.Etika sosial dibagi lagi :Sikap terhadap sesama
                                      Etika keluarga
3.Etika profesi : Biosmedis
                        Bisnis
                        Hukum
                        Ilmu Pengetahuan
                        Dll
4.Etika politik
5.Etika lingkungan hidup


Etika deskriptif
Dalam etika deskriptif, etika membahas apa yang dipandangnya. Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu.

Fenomenologi Kesusilaan
Fenomenologi berasal dari kata Fenomenon dan logos , Fenomenologi artinya uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala. Ciri pokok fenomenologi adalah menghindarkan pemberian tanggapan mengenai kebenaran.

Etika Normatif
tidak lagi berbicara tentang gejala-gejala, tetapi tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.Etika normatif memberikan penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.itu tidak deskriptif, tetapi preskriptif (artinya memerintahkan); tidak melukiskan melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan moral.

Metaetika

Berasal dari bahasa Yunani yang artinya = Melebihi, Melampaui, Setelah, Di luar, tentang.
Metabahasa = bahasa yang dipakai dalam berbicara tentang bahasa. Istilah metabahasa diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan di bidang moralitas.
menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan di bidang moralitas.

-Etika Umum 
Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang beraku bagi segenap tindakan manusia.

-Etika Khusus
membahas prinsip-prinsip moral dasar itu dalam hubungan dengan kewajiban manusia dalam pelbagai lingkup kehidupannya; atau, etika khusus menerapkan prinsip-prinsip dasar pada setiap bidang kehidupan manusia.


Kode Etik
Tujuan dari kode etik adalah :

-Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
-Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
-Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
-Untuk meningkatkan mutu profesi
-Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi
-Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi
-Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat
-Menentukan baku standarnya sendiri


Aliran-aliran pemikiran dalam etika
Eudemonisme
Hedonisme
Egoisme
Utilitarianisme
Deontologisme
Etika Situasi


Bedanya etika dengan moral
Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos,” artinya adat kebiasaan, (jamaknya “ta etha”). Moral berasal dari bahasa Latin “mos,” artinya adat kebiasaan (jamaknya “mores”). Jadi, keduanya memiliki kesamaan arti. Hanya asal bahasanya yang berbeda.
Kalau dalam penggunaan sehari-hari ada perbedaan sedikit yaitu moral/moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.

Amoral dan Imoral 
Menurut Poerwadarminta :
Tidak terdapat kata "amoral" maupun "imoral".

Menurut kamus besar bahasa indonesia, Amoral dijelaskan sebagai tidak bermoral atau tidak berakhlak tetapi tidak terdapat kata imoral.

Tetapi menurut Concise Oxford Dictionary
Amoral : Unconcerned with, out of the sphere of moral, non moral.
Imoral : Opposed to morality, Morally evil.

Beda Etika dan Etiket
Etiket menyangkut “cara” suatu perbuatan harus dilakukan. Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan sedangkan etika memberi norma tentang “perbuatan itu sendiri”.
Etiket hanya berlaku dalam pergaulan sedangkan etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain.
Etiket bersifat relatif sedangkan etika jauh lebih bersifat absolut.
Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika menyangkut manusia dari segi dalam.

Beda Etika dengan Hukum 
Hukum lebih dikodifikasi daripada etika; etika tidak dikodifikasi.
Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja; etika menyangkut juga sikap batin seseorang.
Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan).
Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para individu dan masyarakat.
Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.

Beda Etika dengan Agama
Etika sebagai cabang filsafat bertitik tolak pada akal pikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui Kitab Suci.


Filsafat Manusia

Apa itu Filsafat manusia?
Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia
Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia(origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia
Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia.
Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.
Dulu filsafat manusia dia sebut Psikologi Filosofis, Psikologi Rasional
Kalau sekarang disebut Filsafat manusia, Antropologi Filosofis

apa perlunya kita mempelajari filsafat manusia?
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari ?yang ada?
Manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Sulitkah berfilsafat tentang manusia?
Ya, karena seolah tak berguna atau tak mungkin
Zaman sekarang banyak ilmu yang mengkaji manusia yang memperkaya dan memperdalam pengetahuan tentang manusia. Lalu, apa perlunya lagi filsafat manusia?
Karena belum cukup!
Para filsuf saling bertentangan mungkin mereka juga salah.
Karenanya, ingat tujuan filsafat diatas tadi
Pasti Masih perlu belajar berfilsafat manusia itu.
 Lalu pandangan dari filsuf-filsuf dapat diatasi dan diperdamaikan. Tokoh-tokohnya adalah :
-Plato 
-Aristoteles
-Merleau-Ponty
-Paul Ricoeur
-Martin Heidegger
-Soren Kierkegaard
-Emmanuel Levinas
-Gabriel Marcel
-Jacques Lacan
-Jacques Derrida

Jadi, relevanlah filsafat manusia itu, karena :
Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
Dengan mendalami manusia, manusia mengenal dirinya lebih baik
Sebagai konsekuensi no.2 di atas, filsafat manusia mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama. Misalnya kata Karl Marx, Erich Fromm dan E. Levinas
Metode Filsafat manusia yaitu : Refleksi, analisa transendental, sintesa, ekstensif, intensif, dan kritis

Objek filsafat manusia, ada objek formal dan material
-Objek Formal : Manusia
-Objek Materia; : Esensi manusia, strukturnya yang fundamental

Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam "Who is man?" di Stanford University Press, 1965
-Filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentangmanusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha menghindari kesalahan itu?

Kata Max Scheler dan Heidegger
-Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya.

Asalnya datang pertanyaan tentang Manusia 
a.Kekaguman
b.Ketakjuban
c.Frustrasi
d.Delusi
e.Pengalaman negatif

apa yang akan di bahas dalam filsafat manusia 
-Mencari kekhasan manusia
-Manusia sebagai mana ada-di-dunia?
-Evolusi
-Antarsubyektivitas (sosialitas manusia)
-Manusia sebagai eksistensi bertubuh
-Transendensi
-Manusia sebagai roh
-Pengetahuan manusia
-Kebebasan
-Kesejarahan/historisitas
-kebudayaan, sains dan teknologi
-Dimensi antropologis dari pekerjaan
-Manusia sebagai pribadi/persona
-Kematian dan harapan

(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan ke VI) 

itu lah materi yang dapat saya bagi pada kesempatan kali ini. semoga berguna,rakyat. sampai jumpa

Filsafat Hari ke-5

Halo kalian,barisan berbagai zaman. setelah berapa lama beristirahat,akhirnya kini saya kembali berbagi materi filsafat. saya mempelajarinya dan ini lah selengkapnya!

Silogisme

Suatu simpulan dimana dari dua putusan disimpulkan suatu simpulan baru.Prinsip dari silogisme adalah bila premis benar, maka simpulannya benar.

Lalu silogisme dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1.Silogisme kategoris
Artinya : Silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).
Contohnya :
P-Q
Q-R
jadi , P-R.
Perbuatan terlarang itu dosa
berzinah adalah perbuatan terkarang
Maka , berzinah itu dosa.

-Silogisme Kategoris tunggal : mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S,P,M.
Bentuk-bentuk dari silogisme kategoris tunggal :
a. M adalah S dalam premis mayor dan P dalam premis minor. Aturan : premis minor harus sebagai pengasan, sedang premis mayor bersifat umum.
Contohnya :
Setiap individu pernah makan (mayor)
Andi adalah individu (minor)
Maka , Andi pernah makan (simpulan)

b. M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan : Salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum
Contohnya :
Semua serigala punya taring (mayor)
Domba tidak punya taring (minor)
Makan , serigala bukan domba (simpulan)

c. M Menjadi S dalam premis mayor dan minor. Aturan: premis minor harus berupa penegasan dan simpulannya bersifat partikular.
Contohnya :
Semua orang butuh makan (mayor)
Ada orang yang kurang mampu (minor)
Makan , sebagian orang yang kurang mampu butuh makan (simpulan)

d. M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Aturan : premis minor harus berupa penegasan, sedangkan simpulan bersifat partikular.
Contohnya :
Futsal adalah aktivitas olahraga (mayor)
Semua olahraga mengandung resiko (minor)
Maka , sebagian yang mengandung resiko adalah futsal (simpulan)

-Silogisme Kategoris majemuk : bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap, lebih dari tiga premis.
Jenis-jenis dari silogisme kategoris majemuk :
1.Epicherema
Silogisme yang salah satu/kedua premisnya disertai alasan.
Contohnya :
Semua emas adalah mahal, karena sukar pembuatannya dan pencariannya
emas 24 karat adalah emas yang baik, karena sukar untuk membuatnya.
Jadi, emas 24 karat adalah emas mahal.

2.Enthymema
Silogisme yang dalam penalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yang disingkat.
Contohnya :
(Versi singkat) Jiwa manusia adalah rohani. Jadi, tidak akan mati .
(Versi lengkap)
Yang rohani itu tidak akan dapat mati.
Jiwa manusia adalah rohani
Maka, jiwa manusia tidak akan dapat mati.

3.Polisilogisme
Deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme lainnya.
Contohnya :
Seseorang yang menginginkan lebih dari yang dimiliki, merasa tidak puas.
Seorang yang rakus adalah seseorang yang menginginkan lebih dari yang dimiliki.
Jadi, seorang yang rakus merasa tidak puas
Seorang yang kikir merasa tidak puas. Budi adalah seorang yang kikir. Maka, Budi merasa tidak puas.

4.Sorites
Silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan berikutnya.
Contohnya :
Orang yang jago dalam olahraga, adalah orang yang rajin dalam latihan berolahraga.
Seorang yang rajin dalam latihan berolahraga , adalah seorang atlet.
Seorang atlet ,dapat mengharumkan nama bangsanya. Jadi, Orang yang jago dalam olahraga, dapat mengharumkan nama bangsanya.



FALLACIA

Adalah kesalahan pemikiran dalam logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat.

Klasifikasi kesesatan dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Kesesatan Formal
Pelanggaran terhadap kaidah logika.
Contohnya :
Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen berawajah seram. Maka , semua pengamen adalah pendong.

2. Kesesatan Informal
Menyangkut kesesatan dalam bahasa. Misalkan kesesatan Diksi
Contohnya :
1.Menempatkan kata depan yang keliru
Kepada para hadirin sekalian , di persilahkan untuk maju kedepan.
Seharusnya kepadanya di hilangkan saja.

2.Mengacau posisi subjek atau predikat
Karena tidak mengerjakan PR, guru memarahi anak itu.
Seharusnya Karena anak itu tidak mengerjakan PR, guru memarahinya.

3.Ungkapan yang keliru
Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.
Seharusnya Minggu yang lalu , polisi berhasil meringkus pencuri kawakan itu.

4.Amfiboli(Sesat karena struktur kalimat bercabang)
Anto anak bu Lasma yang hilang ingatan itu kabur dari rumah.

5.Kesesatan aksen/prodi (sesat karena penekanan yang salah dalam pembicaraan)
Misalkan ada aturan 'anda dilarang ganggu istri tetangga'. Nah pak budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu istrinya.

6.Kesesatan bentuk pembicaraan , sesat karena orang menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain
Misalkan bersepeda artinya memakai sepeda , berpakaian artinya memakai pakaian , maka beristeri artinya memakai isteri.

7.Kesesatan aksiden yang aksidental dikacaukan dengan hal yang hakiki.
Misalkan sawo matang adalah warna . Orang Indonesia itu sawo matang . Maka, orang Indonesia adalah warna.

8.Kesesatan karena alasan yang salah : konklusi di tarik dari premis yang tak relevan.


Kesesatan presumsi

1. Generalisasi tergesa-gesa
Misalkan : Orang batak suaranya besar

2.Non Sequitur (belum tentu)
Misalkan : Memang beberapa hari lalu saya tidak lulus karena saya berdebat dengan dosen.

3.Analogi palsu
Misalkan : Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan peliharaan bahagia dengan membelai kepalanya dan memberi banyak makanan.

4.Penalaran melingkar(Petito principii)
Misalkan : Manusia selamat karena diselamatkan , ia diselamatkan karena ia selamat

5.Deduksi cacat
Misalkan : Barangsiapa suka memberikan sumbangan, maka dia pasti orang baik. Anto pasti orang baik.

6.Pikiran simplitis
Misalkan : Karena ia tidak beragama, maka pasti dia tidak bermoral.

Menghindari persoalan

1.Argumentum ad hominem
Misalkan : Jangan percaya apa yang dia katakan , karena dia mantan psk.

2.Argumentum ad populum
Misalkan : Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka partai Nasdem adalah partai masa depan kita

3.Argumentum ad misericordiam
Misalkan : Seorang terdakwa meminta keringanan hukuman karena mengaku punya banyak tanggungan

4.Argumentum ad baculum
Misalkan : Karena berbeda pendapat, suka meneror orang lain.

5.Argumentum ad auctoritatem
Misalkan : Mengutip pendepat Freud mengenai psikoanalisa

6.Argumentum ad ignorantiam
Misalkan : Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.

7.Argumen untuk keuntungan seseorang
Misalkan : Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi itu mau jadi istrinya yang ke 10

8.Non Causa, Pro Causa
Misalkan : Orang sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sebagai penyebabnya.

Kesesatan retoris 

1.Eufemisme/disfemisme
Pembangkana yang dianggap benar disebut reformator. Bila tidak disenangi maka disebut anggota pemberontak.

2.Penjelasan retorik
Dia tidak lulus karena tidak teliti mengerjakan soal

3.Streotipe
Orang jawa penyabar, orang padang jago masak.

4.Innuendo
Saya tidak mengatakan makanan itu tidak enak , tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.

5.Loading question
Apakah anda masih merokok?

6.Weaseler
Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan

7.Downplay
Jangan anggap serius omongannya karena dia hanya buruh bangunan

8.Lelucon/sindiran

9.Hiperbola
Memperbesar-besarkan. Contohnya : Rumahnya besar sekali seperti gunung.

10. Pengandaian bukti

11.Dilema semu
Tamu yang menolak kopi, langsung disungguhi kopi. Jangan menawarkan orang dengan 2 jenis saja , itu akan membuat orang menjadi dilema semu.



(Sumber: Power Point dosen kbk filsafat Materi ke-V)

Semoga berguna untuk kalian,sampai jumpa di post" selanjutnya. Salam Sejahtera!

Rabu, 24 September 2014

Filsafat Hari ke-4

Halo homo sapiens,bertemu lagi dengan saya yang tidak pernah bosan berbagi pengetahuan tentang pembelajaran yang saya terima. Penasaran kan materi saat ini?! Let's see!

Subjektivisme

Rene Descartes. Beliau menyatakan sebuah kalimat Filsafat yang sangat terkenal "Corgito Ergo Sum" yang berarti "Saya berpikir maka saya ada". Rene Descartes menekankan kepada segala sesuatu berasal dari pemikiran subjek.

Kaum Realisme juga berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya. Pernyataan itu didukung oleh Kaum Idealisme yang berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.

Dalam Teori Subjetivisme ini, semua pengetahuan yang "bukan aku" atau berasal dari "luar diri sendiri" diragukan kebenarannya. Rene Descartes adalah seorang rasionalis yang memiliki pemikiran bahwa rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Beliau meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita. Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data indra  dalam kesadaran kita tanpa harus ada “dunia luar” yang mendasarinya. Beliau masuk ke dalam posisi ekstrim yang disebut Solipsisme (ia sendiri pada dirinya).

Aku sadar dan kenal diriku justru berdasarkan kesadaran dan pengenalan yang bukan aku. Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subjek dalam dialog.

Objektivisme

Objektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia yang mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu. Objektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.  Teori tersebut diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahaminya.

3 pandangan dasar Objektivisme :
1. Kebenaran itu independen dan terlepas dari pandangan subjektif
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.

Teori Objektivisme ini didukung oleh seorang tokoh Filsafat yang terkenal, yaitu Karl Popper,Menurutnya pengetahuan dalam pengertian objektif adalah pengetahuan tanpa orang atau pengetahuan tanpa diketahui subjek.

Berikut adalah beberapa syarat yang harus dipenuhi di dalam Teori Objektivisme :
1. Objek harus sesuai dengan jenis indera kita
2. Organ indera harus normal dan sehat
3. Karena objek ditangkap melalui adanya medium, maka meduim harus ada.

Objek juga dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
Objek Khusus : data yang ditangkap hanya oleh satu indera (warna, bau, suara)
Objek Umum : data yang ditangkap oleh lebih dari satu indera (ketika menonton film, kita dapat mendengar suara menggunakan telinga, melihat gerak dan warna menggunakan mata)






Konfirmasi, Inferensi, dan Konstruksi Teori

Konfirmasi

Adalah cara penguatan atau penegasan mengenai apa yang didapat dari kenyataan. Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi). Konfirmasi dibedakan menjadi 2 aspek, yaitu:
1. Metode kuantitatif adalah metode penelitian dengan menggunakan sampel sebanyak mungkin dan akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum.
2 Metode kualitatif adalah metode penelitian dengan menekankan pada teknik wawancara secara lebih mendalam (Depth interview).

Berikut terdapat 3 jenis konfirmasi :
1. Decision Theory : kepastian berdasarkan adanya suatu keputusan
2. Estimation Theory : menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar dan salahnya melalui metode probabilitas.
3. Reliabilty Theory : menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta yang berubah-ubah terhadap hipotesis.


Inferensi

Inferensi adalah suatu proses penarikan konklusi (kesimpulan) dari satu atau lebih proporsi (keputusan).Pada dasarnya, inferensi bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergereak kepada pengetahuan baru. Penarikan kesimpulan dibedakan menjadi 2 cara, yaitu:
a. Deduktif adalah penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum lalu ke khusus. Metode tersebut biasanya berpangkal pada pembuatan premis-premis lalu ditarik kesimpulan secara umum.
b. Induktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus ke umum. Metode induktif biasanya berpangkal pada peluang-peluang benar salahnya suatu hal dengan prinsip probabilitas.

Inferensi juga dibedakan menjadi 2,yaitu :
1. Inferensi langsung adalah penarikan kesimpulan hanya berdasarkan satu premis. Premis pada inferensi langsung adalah data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
2. Inferensi tidak langsung adalah penarikan kesimpulan berdasarkan dua premis. Premis pada metode ini merupakan proporsi yang digunakan untuk membuat konklusi.

Hukum-Hukum Inferensi
Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.


Konstruksi

Konstruksi adalah suatu teori atau pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan suatu peristiwa. Konstruksi seakan-akan menjadi jendela untuk mengamati gejala yang ada berdasarkan dapat empiris yang berhasil dianalisa dan disintesakan.

Konstruksi memiliki 2 kutub.
1. Kutub teori sebagai hukum eksperimental. Misalnya, hukum Mendel tentang keturunan yang bisa langsung diuji lewat observasi.
2. Kutub teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori Relativitas Einstein.

Pengelompokan pengembangan ilmu pengetahuan dibagi menjadi 3 periode,yaitu:
1. Animisme : periode percaya terhadap mitos
2. Ilmu Empiris : tolak ukur ilmu paling sederhana adalah pengalaman
3. Ilmu Teoritis : gejala dalam ilmu empiris diterangkan melalui kerangka berpikir.

Model konstruksi :
a. Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
b. Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu dan mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif dan kebenaran moral/ nilai.
c. Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola  hubungan yang beragam dengan menyederhanakan yang kompleks.

Aliran-aliran Konstruksi :
1.Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tidak dapat diamati secara empiris, dan tidak dapat diuji langsung.
2. Instrumentalisme:  teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
3. Realisme: teori dianggap benar bila benar-benar ada sesuai dengan kenyataan.



Logika

Logika adalah cabang filsafat yg mempelajari aturan formal serta kriteria yang sesuai dengan fakta (valid) bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Objek dalam logika dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Objek material adalah manusia itu sendiri.
b. Objek formal adalah akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.

Manfaat belajar logika :
-Membantu setiap  orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
-Meningkatkan kemampuan nalar secara abstrak.
-Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
-Menambah kecerdasan berpikir sehingga menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan

Sejarah Logika

Istilah "logika" pertama sekali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Aristoteles menggunakan istilah "analitika", namun argumentasinya tetap berangkat dari proposisi yang benar. Logika tradisional membahas seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.

Macam-macam logika :
1. Logika kodrati : suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
     
2. Logika ilmiah : berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat sehingga kesesatan dapat dihindari dan dipertangungjawabkan secara rasional.
3. Logika formal (minor) : logika yang memperhatikan penyusunan pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan.
4. Logika Material (mayor) : logika yang membahas mengenai kebenaran isi. Argumen dikatakan benar apabila pernyataan yang membentuk argumen sesuai dengan kenyataan.

Critical Thinking

Berpikir secara kritis adalah merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati / memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.

Karakteristik berpikir kritis :
1. Rasional,  Reasonable, Reflektif : Pemikiran harus didasrkan pada adanya fakta atau bukti-bukti yang memperkuat adanya suatu pernyataan dan bukan berdasarkan keinginan pribadi.

2. Melihatkan sikap skeptis yang sehat dan konstruktif : Tidak menerima ataupun menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut. Menaati peraturan setelah berpikir panjang  dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.

3. Otonomi : Tidak mudah dimanipulasi karena memang berasal dari pemahaman dan pemikiran dalam diri kita sendiri.

4. Kreatif : Menciptakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang sifatnya baru dan asli dengan cara menggabungkan pemikiran dan konsep-konsep yang ada.

5. Adil : Seseorang yang berpikir secara kritis harus bisa menciptakan suatu argumen atau pernyataan yang sifatnya tidak memihak pada kepentingan tertentu.

6. Dapat dipercaya dan dilakukan : Seseorang yang memiliki critical thinking harus dapat melakukan observasi yang benar-benar dapat dilakukan dan kesimpulan yang diberikan dapat dipercaya.

5 model dalam berpikir kritis (THINK) :

T : Total Recall
kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran. Total Recall erat sekali hubungannya dengan memori yang dimiliki seseorang. Namun, biasanya seseorang akan menerapkan cara berupa pengelompokan kata / angka ke dalam suatu bagian sehingga memudahkan proses untuk mengingat.

H : Habits
pendekatan berpikir yang sering kali diulang-ulang sehingga melakukan sesuatu tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu.

I : Inquiry
memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal yang terlihat nyata. Teknik berpikir secara inquiry termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu untuk menegakkan suatu kesimpulan.

N : New Ideas and Creativity
Seseorang yang berpikir kritis selalu akan memunculkan ide-ide yang baru dan berpikir secara lebih kreatif dalam segala situasi. Critical thinking menghasilkan seorang individu yang selalu berbeda di antara kumpulan orang yang ada.

K : Knowing how you think
Berpikir mengenai bagaimana cara seseorang dapat berpikir. Artinya, seseorang yang berpikir kritis akan mengupas lebih dalam lagi mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kehiduan ini

Logika (Induksi dan Deduksi)

Dalam memperoleh pengetahuan, biasanya induksi mendahului deduksi. Sedangkan, di dalam logika biasanya deduksi mendahului induksi. Hal tersebut dikarenakan deduksi dipandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran.

Penalaran Induktif
Berpikir secara induktif artinya cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atas dasar fakta untuk menarik kesimpulan umum.

Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penalaran induktif merupakan proposisi empiris yang ditangkap indera
2) Kesimpulan lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional, yaitu probabilitas.

Generalisasi Induktif
adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala tertentu untuk menarik kesimpulan umum.

Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tidak terbatas secara numerik atau tidak terikat pada jumlah tertentu
2) Harus dapat berlaku dimana saja
3) Dapat dijadikan dasar pengandaian.

Analogi Induktif
proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yg lain yg punya sifat esensial yg sama (atas dasar persamaan)

Kebenaran konklusi dalam logika induktif, baik dalam analogi maupun generalisasi bersifat tidak pasti, karena hanya bersifat mungkin (probabel).
Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh :
(1) faktor fakta : semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya,
(2) faktor analogi : semakin besar jumlah faktor analogi dalam premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya,
(3) faktor disanalogi : semakin besar faktor disanalogi dalam premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya,
(4) faktor luas konklusi : semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya.

Hubungan sebab akibat merupakan salah satu bentuk penalaran induksi.
Hubungan sebab akibat memiliki 3 pola, yaitu :

1. Hubungan sebab ke akibat
dompet yang berisi uang hilang (sebab) maka anda tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan (akibat). Jadi “uang hilang” merupakan sebab dan “tidak jadi membeli sepatu” merupakan akibat.

2. Hubungan akibat ke sebab
Suatu hari saya bersama teman-teman hendak pergi berlibur ke Puncak. Karena mobil bus sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi di mana saya bisa mengendarainya dengan santai dan tidak berhimpitan dengan lainnya. Ketika dalam perjalanan mobil yang saya kendarai mengalami gangguan dan akhirnya mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang menjadi sebabnya.

3. Hubungan akibat ke akibat
Dalam perjalanan pulang kuliah, saya melihat jalan yang becek. Saat sampai di rumah saya melihat sekitar halaman basah. Kemudian, saya teringat pakain yang saya jemur di pagi hari. Saya langsung berpikir bahwa pakaian tersebut pasti sudah basah. Pakaian menjadi basah bukan disebabkan jalanan becek dan halaman rumah yang basah, melainkan karena hujan. Kedua gejala yang terjadi tersebut, yaitu jalanan becek dan halaman rumah basah serta pakaian yang dijemur basah sama-sama merupakan akibat dari penyebab yang tidak saya pikirkan lagi, yaitu hujan yang turun.



Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif selalu diungkapkan melalui metode penarikan kesimpulan secara silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis untuk ditarik suatu kesimpulan. Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan .

Ciri-ciri Silogisme :
1. Semua pernyataannya adalah proposisi kategoris.
2. Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3. Dua premis dan satu kesimpulan secara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi

Contoh Silogisme :
Premis Mayor : semua anjing di rumah memiliki taring
Premis Minor : piko adalah nama anjing di rumah
Kesimpulan : piko punya taring.



(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat materi IV)

Wah cukup membuat kepala berasap yaa?hahaa. Keep strong for study philosophy.
Semoga berguna,Salam Homo Sapiens










Selasa, 23 September 2014

Tugas Jurnal Psikologi

Hai,penggemar psikologi. Saya akan membagi pengetahuan tentang tugas yang saya dapat. Ini selengkapnya!

Gambaran Coping Stres Pada Penderita Dystonia Di Jakarta
Dystonia adalah sindrom yang berupa kontraksi otot yang tidak dapat dikontrol yang menyebabkan  pergerakan yang berbelok dan berulang-ulang dan/atau postur tidak normal. Dystonia menimbulkan rasa sakit dan pegal yang menetap dan hingga saat ini belum bisa disembuhkan, sehingga pengobatan yang ada saat ini hanyalah untuk mengurangi gejala yang timbul dari Dystonia. Ketidakmampuan mereka dalam mengontrol tubuh mereka, rasa sakit yang mereka rasakan terus menerus serta belum adanya obat yang ditemukan menimbulkan stres bahkan depresi bagi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stres, beberapa faktor penyebab stres yang dialami dan coping stres yang dilakukan oleh penderita Dystonia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek yang dipilih adalah penderita Dystonia yang sudah mengalamiDystonia lebih dari 1 tahun, berusia 20-40 tahun dan berdomisili di Jakarta. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi serta menggunakan purposive sampling. Dari hasil pengolahan data diperoleh gambaran bahwa secara garis besar ketiga subjek mengalami stres karena penyakit Dystonia yang dideritanya. Stres yang mereka alami bersumber dari stressor fisik berupa adanya kekakuan otot pada bagian leher, bahu dan kepala. Kemudian adanya stressor psikologis yaitu depresi serta minder dan tidak percaya diri yang timbul karena ketidakmampuan mereka dalam mengontrol tubuh mereka. Selanjutnya stressor sosial, yaitu adanya rasa malu dan malas dalam bersosialisasi karena posisi tubuh mereka yang dianggap aneh dan terakhir adalah stressor ekonomi yaitu adanya kesulitan dalam keuangan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan mereka yang mahal dan berkepanjangan. Ketiga subjek mengalami semua stressor tersebut namun melakukan perilaku coping yang berbeda. Subjek I memilih untuk menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping, sedangkan subjek II dan III lebih memilih untuk menggunakan emotion focused coping saja. Namun bagi ketiga subjek, stres yang mereka alami dapat teratasi ketika mereka melakukan emotion focused coping berupa positive appraisal.

Puspita Puspita, Olivia Tjandra Waluya








1.  Konstruksi Teori
·         Judul Jurnal :
Gambaran Coping Stress Pada Penderita Dystonia di Jakarta.

·         Istilah Psikologi :  
a)      Coping Stress : Upaya kognitif dan tingkah laku untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yan khusus dan konflik diantaranya yang dinilai individu sebagai beban yang melampaui batas kemampuannya
b)      ­­Dystonia : Syndrome yang berupa kontraksi otot yang tidak dapat dikontrol yang menyebabkan gerakan yang berbelok dan berulang-ulang atau postur yang tidak normal.

2.  Konfirmasi

o   Hipotesis :
Penderita Dystonia memiliki gambaran coping stress yang berbeda-beda.

o   Responden :
 Penderita Dystonia yang sudah mengalami Dystonia lebih dari 1 tahun, berusia 20-40 tahun dan berdomisili di Jakarta.

o   Jurnal diatas menggunakan metode pengumpulan data wawancara dan observasi serta menggunakan purposive sampling.

3.  Inferensi
§  Hasil :
Dari hasil pengolahan data diperoleh gambaran bahwa secara garis besar ketiga subjek mengalami stres karena penyakit Dystonia yang dideritanya. Strees bersumber dari stressor fisik berupa adanya kekakuan otot pada bagian leher, bahu dan kepala. Kemudian adanya stressor psikologis yaitu depresi  dan tidak percaya diri yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengontrol tubuh,coping menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping . Stressor sosial, yaitu rasa malu dan malas dalam bersosialisasi karena posisi tubuh mereka yang dianggap aneh, menggunakan emotion focused coping saja dan terakhir adalah stressor ekonomi yaitu kesulitan dalam keuangan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan yang mahal , teratasi ketika mereka melakukan emotion focused coping berupa positive appraisal.
Interfensi Deduktif

Itu lah,menarik bukan? Semoga berguna untuk penggemar psikologi semua. Salam Trisula.

Filsafat Hari ke-3

Halo,visitors. Bertemu lagi blog saya yang tidak bosan-bosannya berbagi pengetahuan yang saya pelajari juga.
Saat ini kita akan bahas epstimologi, simaklah,mari!


Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang berkaitan dengan asal,sifat,karakter,dan jenis pengetahuan.
Topik ini sering diperdebatkan dalam filsafat, misalnya tentang apakah pengetahuan itu, bagaimana karakteristiknya, bagaimana macam-macamnya serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Pengetahuan diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan dengan berbagai metode, diantaranya : metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode komplematis, dan metode dialektis.

Metode untuk memperoleh pengetahuan

Empirisme(John Locke)
Metode ini mendasarkan cara manusia memperoleh pengetahuan melalui pengamatan. Bapak empirisme Britania, John Locke, mengatakan  bahwa sewaktu manusia dilahirkan akalnya merupakan  jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman inderawi.

Rasionalisme(Rene Descartes)
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam  ide.
Jika kebenaran mengandung makna yang sesuai kenyataan, maka kebenaran hanya terdapat di dalam  pikiran  kita dan  hanya diperoleh dengan akal budi saja.

Fenomenalisme(Immanuel kant)
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Fenomenalisme dikaji dengan gejala-gejala yang terjadi. Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan  pada pengalaman meskipun  benar hanya untuk sebagian. Akan  tetapi, para penganut rasionalisme juga benar.


Epistemologi adalah  ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif, dan evaluatif mengenai proses bagaiaman pengetahuan itu diperoleh manusia.

Sifat epistemologi
1.Kritis → mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia.
2.Normatif → menentukan tolak ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
3.Evaluatif → menilai apakah suatu keyakinan/pendapat sesuai teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.

Dasar dan sumber pengetahuan
1.Pengalaman manusia
2.Ingatan
3.Penegasan tentang apa yang diobservasi(kesaksian)
4.Minat dan rasa ingin tahu
5.Pikiran dan penalaran
6.Logika → berpikir tepat dan  logis
7.Bahasa → ekspresi pemikiran manusia melalui tulisan/ujaran
8.Kebutuhan hidup manusia → mendorong terciptanya iptek

Struktur ilmu pengetahuan
Adanya dua kutub yaitu :
1.Kesadaran/Subjek(S) → berperan sebagai yang menyadari
2.Objek(O) → berperan sebagai yang diketahui
Adanya hubungan anatara S dan O menghasilkan pengetahuan

Teori kebenaran dalam pengetahuan :
1.Teori kebenaran korespondensi
Kebenaran akan terjadi bila subjek yakin bahwa objek sesuai kenyataannya.
Sifat kebenarannya → subjektif
Contoh : Saya melihat motor berwarna hitam, dan kenyataannya motor yang dilihat itu berwarna hitam.
2.Teori kebenaran koherensi
Kebenaran akan terjadi bila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek.
Sifat kebenarannya → objetif.
Contoh : Beberapa dokter masih yakin bahwa pasien itu kena penyakit kanker.

3.Teori kebenaran pragmatik
Kebenaran akan terjadi bila sesuatu  memiliki kegunaannya.
Contoh : Kulkas berguna untuk mendinginkan makanan

4.Teori kebenaran konsensus
Kebenaran konsesus akan terjadi bila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
Contoh : Beberapa dokter yang menangani Bapak Presiden sepakat bahwa pasien itu harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya parah.

5.Teori kebenaran semantik
Kebenaran akan terjadi bila orang mengetahui dengan tepat arti suatu kata.
Contoh : Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya.


Kebenaran

Kebenaran secara umum dapat diartikan sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.Sesuatu pengetahuan atau pernyataan disebut benar jika sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, kenyataan merupakan suatu ukuran penentu penilaian.
Kata kebenaran dalam bahasa Yunani adalah alétheia.

Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alétheia berarti “ketersingkapan adanya”
Menurutu Plato bahwa selama kita terikat pada “yang ada” dan  tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan kebenaran , karena “adanya” itu masih tersembunyi. Ketika selubung yang menutupi itu “semua yang ada” itu disingkapkan sehingga terlihat oleh mata batin kita, maka terbukalah “adanya” atau bertemulah kita dengan kebenaran.

Kebenaran menurut konsep Plato terletak pada obyek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk dketahui.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa kebenaran lebih memustakan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu  ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Kebenaran ini dimengerti sebagai adanya keseuaian antara subyek penahu dengan obyek uamg diketahui.

Kebenaran menurut kaum Positivisme Logis dibedakan menjadi dua, yaitu:
Kebenaran faktual
Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada atau tidaknya faktual di dunia nyata yang sebagaimana dialami oleh manusia (biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi).  Kebenaran faktual dapat menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi. Kebenaran ini bersifat nisbi (tidak mutlak)

Kebenaran nalar
Kebenaran  nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, akan tetapi dapat menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan yang faktual. Kebenaran ini terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya didasarkan pada penyimpulan deduktif. Kebenaran ini bersifat mutlak.
Selain kedua jenis kebenaran tadi, Thomas Aquinas membagi kebenaran menjadi dua,yaitu:
1.Kebenaran Ontologis (Veritas ontologica)
Kebenaran ontologis adalah kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material, yang meskipun ada untuk diketahui. Misalnya : kebenaran tentang adanya Tuhan, kebenaran tentang keabadian jiwa.
2.Kebenaran Logis (Veritas logica)
Kebenaran logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia, dalam kebenaran logisi ini harus ada kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

Kedudukan kebenaran
1.Kedudukan kebenaran pengetahuan dalam pandangan Plantonis (pengikut aliran Plato)

2.Kedudukan kebenearan ini lebih diletakkan pada obyek atau kenyataan yang diketahui.

3.Kedudukan kebenaran dalam pandangan Aristotelian (pengikut aliran Aristoteles)

4.Kedudukan kebenaran ini diletakkan pada subyek. Kedudukan dalam pandanga Aristotelian  lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

5.Kedudukan kebenaran dari Kaum Eksistensial

6.Kaum ini menyatakan bahwa kebenaran merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.

7.Kedudukan kebenaran ilmiah

Kesahihan dan  Kekeliruan.
Kekeliruan berbeda dengan kesahihan. Kekeliruan berarti menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau  menyangkal apa yang dinyatakan benar. Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari kekeliruan.
Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengindentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi, padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup, padahal sudah. Kekeliruan dapat dikarenakan gegabah (tidak hati-hati) dalam menegaskan keputusan suatu perkara.
Faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan :
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian pada keseluruhan proses
2. Sikap takut salah takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap gegabah dalam melangkah. Sikap yang pertama ini menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran, padahal sebenarnya sudah cukup bukti, sedangkan sikap yang kedua adalah sikap yang terlalu cepat merasa cukup dalam menegaskan benar atau salahnya suatu perkara.



(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat materi III)

Oke itulah pemaparannya. Semoga beguna untuk semua visitors. Salam damai.

Senin, 22 September 2014

Filsafat Hari Ke-2

Halo pengunjung,bertemu lagi dengan saya. Saat ini saya akan membahas percabangan filsafat yang saya sudah pelajari sebelumnya. Check it out!

Pencabangan Filsafat
          Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis.
          Pengetahuan manusia: makin luas dan bertambah banyak, tapi makin khusus.
          Disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat.
          Namun masalah pokok filsafat makin banyak, maka perlu dibagi sesuai kelompok permasalahan, yang disebut cabang filsafat.

Pembagian Cabang Filsafat Secara Umum
  1. Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
  2. Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi metafisik, Antropologi
  3. Logika: Ilmu berpikir kritis
  4. Etika: Filsafat tingkah laku
  5. Estetika: Filsafat keindahan
  6. Aksiologi: Filsafat Nilai
  7. Filsafat Khusus berbagai disiplin ilmu: Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum, Fils. Ekonomi, dll.

Epistemologi
          Etimologis: episteme (pengetahuan), logos (kata, pikiran, percakapan, ilmu)
          Epistemologi: kata, pikiran, percakapan ttg pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
          Pokok persoalan: sumber, asal mula, sifat dasar, batas, jangkauan, validitas.

TIGA JENIS PENGETAHUAN
          Pengetahuan biasa: pra-ilmiah, krn hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya.
          Pengetahuan ilmiah: diperoleh lewat metode ilmiah dan dpt dijamin kepastian kebenarannya.
          Pengetahuan filsafati: pemikiran resional yang didasarkan pada pemahaman dan pemikiran logis, analitis dan sistematis.

Sumber-Sumber Pengetahuan
          Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz: akal budi atau rasio.
          Bacon, Hobbes, Locke: pengalaman inderawi.dan bersifat aposteriori..
          Immanuel Kant: Walau ide dan konsep apriori, ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. Dkl: akal budi manusia bisa berfungsi bila dihubungkan dengan pengalaman.


Argumen Para Filsuf
v  Penganut skeptisisme: segala sesuatu dapat saja disangsikan kebenarannya. Pegangannya ungkapan Sokrates: “Apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa

v  Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, krn tidak ada yang benar-benar dpt diketahui dg pasti.

v  J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill (1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan tertentu yang sudah pasti.

v  David Hume (1711-1776): serang dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dpt dibenarkan scr rasional.

v  Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati

v  Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.

Kesahihan Pengetahuan
          teori kesahihan pengetahuan:
o   koherensi: proposisi diakui sahih bila ia memiliki hubungan dengan gagasan proposisi                 sebelumnya yang sahih.
o   korespondensi: pengetahuan sahih, bila proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian inderawi.
o   pragmatis: pengetahuan sahih bila proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
o   logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi



Metafisika
          Meta ta physika = sesudah fisika. Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika).
          Arti metafisika:
·         upaya mengkarakterisasi realitas sbg keseluruhan.
·         usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
·         pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu  yang ada.

Pembagian metafisika: Metafisika umum  dan metafisika khusus
Metafisika Umum (Ontologi)
          Membahas segala sesuatu yg ada secara menyeluruh dg cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
          Pertanyaan utama: apakah realitas yang tampak beraneka ragam itu pd hakekatnya satu atau tidak?
          Tiga teori ontologis:
§  =idealisme: ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya.
§  Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan.
§  Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (àteori ttg jumlah substansi).


Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
                Teologi metafisik: dikenal dg theodicea yg membahas kepercayaan pd Allah di tengah realitas kejahatan yg merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dg bukti rasional sbb:
ü  Argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dr ide manusia ttg Tuhan.
ü  Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
ü  Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
ü  Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
ü  Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
ü  David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
ü  L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
ü  F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
ü  Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu a) penguasa alam, b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan, c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.




AKSIOLOGI
Secara etimologi, aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios berarti nilai dan logosberarti ilmu. Nilai berkaitan dengan kegunaan. Berarti, aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi sebagai ilmu yang membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pengertian lain, aksiologi adalah kajian tentangkegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.Selain itu, Suri Sumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan burukbenar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
Berbicara mengenai pengetahuan, pengetahuan manusia itu cukup luas. Dari pengetahuan tersebut diharapkan memiliki sesuatu yang berguna bagi pemiliknya.
Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan, bagaimana kaitan antara cara pengetahuan dengan kaidah – kaidah nilai, dan bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Contohnya saat kita mendengarkan musik, kita menilai musik tersebut bagus atau tidak.
Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, dan membedakan fakta dan nilai.
Untuk menjelaskan lebih jauh apa itu nilai, kita perlu mengetahui apa itu fakta. Fakta  adalah sesuatu yang ada secara nyata, berlangsung begitu saja. Sedangkan, nilai sebagai sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau mengimbau kita.
Perbedaan fakta dengan nilai, yaitu:
o   Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi.
o   Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Misalnya, letusan gunung Merapi. Letusan dapat mempunyai nilai bagi seseorang, tetapi tidak bagi yang lain.
o   Fakta selalu mendahului nilai.
Maka, ada 3 ciri ciri nilai:
1.       Nilai berkaitan dengan subjek
2.       Nilai tampil dlm konteks praktis
3.       Nilai menyangkut  sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.

Macam macam nilai:
Ø  Nilai ekonomis: berdasarkan hukum ekonomi.
Ø   Nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
Setiap nilai memperoleh bobot moral  bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. nilai moral dapat menjadi kosong, bila tidak diikutsertakan dengan nilai lain seperti nilai ekonomis. Contohnya, Kerajinan seseorang saat bekerja dapat menjadi tidak berarti bila tidak diapresiasi oleh bosnya.
Nilai dibagi dalam 4 kelompok, yaitu:
                                I.            Nilai yg menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek
                              II.            Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar,  luhur dll,
                            III.            Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah
                            IV.            Nilai Religius seperti yg kudus dan tidak kudus, menyangkut objek absolut.
Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital.
Nilai moral memiliki ciri – ciri nilai, antara lain:
o   Berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia.Berkaitan dengan hati nurani
o   Mewajibkan, misalnya nilai moral mewajibkan secara absolute
o   Bersifat formal: tidak ada nilai moral yang ‘murni’ terlepas dari nilai lain.
Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.
Nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri.  Nilai butuh pengemban untuk berada. Nilai tampak pada kita seolah olah hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai. Contohnya, keindahan dari lukisan, dan kegunaan dari sebuah peralatan. Jadi, nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan ‘baik’.


Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: Etika (Filsafat Etika),dan Estetika (Filsafat keindahan).
Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia. 
Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni

Nilai memiliki 2 sifat : obyektif dan subyektif.
Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada obyektivitas fakta.
Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya. Dengan demikian, nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Peranan nilai bagi kita, yaitu:

  1. Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia. 
  2. Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya. 
  3. Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
  4.  Memperkuat identitas kita sebagai manusia


(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan II)

Oke,sampai disitu dulu pembahasan kita. Semoga bermanfaat untuk para pengnjung.
Sampai bertemu lagi,Salam.