Manusia dan Afektifitas
Afektivitas yang membuat manusia 'berada' di dunia, berpartisipasi dengan orang lain,.
Afektivitaslah yang mendorong orang untuk mencintai.
Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda menurut bagaimana subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yang berbeda-beda ini disebut 'hasrat-hasrat jiwa' (Thomas Aquinas)
Afektivitas sering disamakan dengan kesanggupan merasa, padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut hal tersebut saja, tetapi menyangkut hal spiritual juga.
Apa yang merupakan perbuatan afektif?
Perbuatan afektif sedikit memiliki kemiripan dengan 'perbuatan mengenal' karena dianggap perbuatan vital/imanen.
Akan tetapi afektif berbeda dengan 'perbuatan mengenal' karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan 'perbuatan mengenal' itu lebih membuka diri.
Catatan tentang cinta diri, sesama, dan Tuhan
Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka hal itu tidak baik.
Padahal cinta diri sendiri dapat ditemukan pada orang - orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh - sungguh...
Maksudnya disini adalah jika kita mencintai seseorang yang kita cintai dengan sungguh - sungguh maka kita pun mencintai diri kita sendiri..
Pertanyaannya adalah jika kita mencintai Tuhan dengan seluruh jiwa/hati, tidakkah itu sama dengan mengasingkan dari diri sendiri?
Jawabannya : Tidak....
Tuhan itu transenden dan imanen
Transenden = jauh melampaui pikiran kita
Imanen = dekat dengan kita
St. Agustinus berkata bahwa Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing - masing.
Kebebasan
Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas..
Karena ada jiwa maka manusia merupakan suatu makhluk yang bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia.
Apakah arti kebebasan?
- Pengertian Umum-
Kebebasan artinya tidak ada paksaan, hambatan , halangan , aturan
- Pengertian Khusus-
Sebagai penyempurnaan diri
Kesanggupan dalam memilih dan memutuskan
Kemampuan mengungkapan berbagai dimensi kemanusiaan ( hak - hak dasar manusia)
Sejarah Perkembangan Masalah Kebebasan
*Abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
*Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan menjadi perspektif antroposentrik
*Era kontamporer, kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
*Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri
-Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan)
-Kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
-Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia)
-Kebebasan sosial (terkait dengan orang lain)
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis, dan normatif
Terdapat empat alasan pembatasan kebebasan sosial :
*menyertakan pengertian
*memberi ruang bagi kebebasan eksistensi
*menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
*terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial
Pandangan Determinisme
Aliran ini menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa lainnya.
Kelemahan determinisme :
- menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia
Paradoks = pernyataan yang bertentangan
- menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
- meniadakan adanya tanggungjawab
Berikut akan saya berikan kasus paradoks :
Kesepian di tengah keramaian
Lonely in the crowd. Mungkin kita pernah merasakan kondisi yang seperti ini. Misalnya : Ketika saat kita pergi ke mall, suasana disana ramai dan sangat meriah karena ada performance show. Namun, kita tidak menikmati hal itu. Kita merasa kesepian di tengah keramaian orang - orang di mall tersebut.
Hal ini merupakan contoh salah satu kasus paradoks dalam kehidupan kita.
Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia. Apakah argumennya?
- Manusia hidup diperhadapkan dengan pilihan - pilihan
- Adanya tanggung jawab
- Adanya perbuatan moral
(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat pertemuan ke VIII)
Sumber : Power Point Pertemuan yang dibuat oleh Tim Dosen KBK Filsafat Universitas Tarumanagara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar