Selasa, 23 September 2014

Tugas Jurnal Psikologi

Hai,penggemar psikologi. Saya akan membagi pengetahuan tentang tugas yang saya dapat. Ini selengkapnya!

Gambaran Coping Stres Pada Penderita Dystonia Di Jakarta
Dystonia adalah sindrom yang berupa kontraksi otot yang tidak dapat dikontrol yang menyebabkan  pergerakan yang berbelok dan berulang-ulang dan/atau postur tidak normal. Dystonia menimbulkan rasa sakit dan pegal yang menetap dan hingga saat ini belum bisa disembuhkan, sehingga pengobatan yang ada saat ini hanyalah untuk mengurangi gejala yang timbul dari Dystonia. Ketidakmampuan mereka dalam mengontrol tubuh mereka, rasa sakit yang mereka rasakan terus menerus serta belum adanya obat yang ditemukan menimbulkan stres bahkan depresi bagi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stres, beberapa faktor penyebab stres yang dialami dan coping stres yang dilakukan oleh penderita Dystonia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek yang dipilih adalah penderita Dystonia yang sudah mengalamiDystonia lebih dari 1 tahun, berusia 20-40 tahun dan berdomisili di Jakarta. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi serta menggunakan purposive sampling. Dari hasil pengolahan data diperoleh gambaran bahwa secara garis besar ketiga subjek mengalami stres karena penyakit Dystonia yang dideritanya. Stres yang mereka alami bersumber dari stressor fisik berupa adanya kekakuan otot pada bagian leher, bahu dan kepala. Kemudian adanya stressor psikologis yaitu depresi serta minder dan tidak percaya diri yang timbul karena ketidakmampuan mereka dalam mengontrol tubuh mereka. Selanjutnya stressor sosial, yaitu adanya rasa malu dan malas dalam bersosialisasi karena posisi tubuh mereka yang dianggap aneh dan terakhir adalah stressor ekonomi yaitu adanya kesulitan dalam keuangan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan mereka yang mahal dan berkepanjangan. Ketiga subjek mengalami semua stressor tersebut namun melakukan perilaku coping yang berbeda. Subjek I memilih untuk menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping, sedangkan subjek II dan III lebih memilih untuk menggunakan emotion focused coping saja. Namun bagi ketiga subjek, stres yang mereka alami dapat teratasi ketika mereka melakukan emotion focused coping berupa positive appraisal.

Puspita Puspita, Olivia Tjandra Waluya








1.  Konstruksi Teori
·         Judul Jurnal :
Gambaran Coping Stress Pada Penderita Dystonia di Jakarta.

·         Istilah Psikologi :  
a)      Coping Stress : Upaya kognitif dan tingkah laku untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yan khusus dan konflik diantaranya yang dinilai individu sebagai beban yang melampaui batas kemampuannya
b)      ­­Dystonia : Syndrome yang berupa kontraksi otot yang tidak dapat dikontrol yang menyebabkan gerakan yang berbelok dan berulang-ulang atau postur yang tidak normal.

2.  Konfirmasi

o   Hipotesis :
Penderita Dystonia memiliki gambaran coping stress yang berbeda-beda.

o   Responden :
 Penderita Dystonia yang sudah mengalami Dystonia lebih dari 1 tahun, berusia 20-40 tahun dan berdomisili di Jakarta.

o   Jurnal diatas menggunakan metode pengumpulan data wawancara dan observasi serta menggunakan purposive sampling.

3.  Inferensi
§  Hasil :
Dari hasil pengolahan data diperoleh gambaran bahwa secara garis besar ketiga subjek mengalami stres karena penyakit Dystonia yang dideritanya. Strees bersumber dari stressor fisik berupa adanya kekakuan otot pada bagian leher, bahu dan kepala. Kemudian adanya stressor psikologis yaitu depresi  dan tidak percaya diri yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengontrol tubuh,coping menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping . Stressor sosial, yaitu rasa malu dan malas dalam bersosialisasi karena posisi tubuh mereka yang dianggap aneh, menggunakan emotion focused coping saja dan terakhir adalah stressor ekonomi yaitu kesulitan dalam keuangan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan yang mahal , teratasi ketika mereka melakukan emotion focused coping berupa positive appraisal.
Interfensi Deduktif

Itu lah,menarik bukan? Semoga berguna untuk penggemar psikologi semua. Salam Trisula.

Filsafat Hari ke-3

Halo,visitors. Bertemu lagi blog saya yang tidak bosan-bosannya berbagi pengetahuan yang saya pelajari juga.
Saat ini kita akan bahas epstimologi, simaklah,mari!


Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang berkaitan dengan asal,sifat,karakter,dan jenis pengetahuan.
Topik ini sering diperdebatkan dalam filsafat, misalnya tentang apakah pengetahuan itu, bagaimana karakteristiknya, bagaimana macam-macamnya serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Pengetahuan diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan dengan berbagai metode, diantaranya : metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode komplematis, dan metode dialektis.

Metode untuk memperoleh pengetahuan

Empirisme(John Locke)
Metode ini mendasarkan cara manusia memperoleh pengetahuan melalui pengamatan. Bapak empirisme Britania, John Locke, mengatakan  bahwa sewaktu manusia dilahirkan akalnya merupakan  jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman inderawi.

Rasionalisme(Rene Descartes)
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam  ide.
Jika kebenaran mengandung makna yang sesuai kenyataan, maka kebenaran hanya terdapat di dalam  pikiran  kita dan  hanya diperoleh dengan akal budi saja.

Fenomenalisme(Immanuel kant)
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Fenomenalisme dikaji dengan gejala-gejala yang terjadi. Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan  pada pengalaman meskipun  benar hanya untuk sebagian. Akan  tetapi, para penganut rasionalisme juga benar.


Epistemologi adalah  ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif, dan evaluatif mengenai proses bagaiaman pengetahuan itu diperoleh manusia.

Sifat epistemologi
1.Kritis → mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia.
2.Normatif → menentukan tolak ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
3.Evaluatif → menilai apakah suatu keyakinan/pendapat sesuai teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.

Dasar dan sumber pengetahuan
1.Pengalaman manusia
2.Ingatan
3.Penegasan tentang apa yang diobservasi(kesaksian)
4.Minat dan rasa ingin tahu
5.Pikiran dan penalaran
6.Logika → berpikir tepat dan  logis
7.Bahasa → ekspresi pemikiran manusia melalui tulisan/ujaran
8.Kebutuhan hidup manusia → mendorong terciptanya iptek

Struktur ilmu pengetahuan
Adanya dua kutub yaitu :
1.Kesadaran/Subjek(S) → berperan sebagai yang menyadari
2.Objek(O) → berperan sebagai yang diketahui
Adanya hubungan anatara S dan O menghasilkan pengetahuan

Teori kebenaran dalam pengetahuan :
1.Teori kebenaran korespondensi
Kebenaran akan terjadi bila subjek yakin bahwa objek sesuai kenyataannya.
Sifat kebenarannya → subjektif
Contoh : Saya melihat motor berwarna hitam, dan kenyataannya motor yang dilihat itu berwarna hitam.
2.Teori kebenaran koherensi
Kebenaran akan terjadi bila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek.
Sifat kebenarannya → objetif.
Contoh : Beberapa dokter masih yakin bahwa pasien itu kena penyakit kanker.

3.Teori kebenaran pragmatik
Kebenaran akan terjadi bila sesuatu  memiliki kegunaannya.
Contoh : Kulkas berguna untuk mendinginkan makanan

4.Teori kebenaran konsensus
Kebenaran konsesus akan terjadi bila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
Contoh : Beberapa dokter yang menangani Bapak Presiden sepakat bahwa pasien itu harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya parah.

5.Teori kebenaran semantik
Kebenaran akan terjadi bila orang mengetahui dengan tepat arti suatu kata.
Contoh : Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya.


Kebenaran

Kebenaran secara umum dapat diartikan sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.Sesuatu pengetahuan atau pernyataan disebut benar jika sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, kenyataan merupakan suatu ukuran penentu penilaian.
Kata kebenaran dalam bahasa Yunani adalah alétheia.

Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alétheia berarti “ketersingkapan adanya”
Menurutu Plato bahwa selama kita terikat pada “yang ada” dan  tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan kebenaran , karena “adanya” itu masih tersembunyi. Ketika selubung yang menutupi itu “semua yang ada” itu disingkapkan sehingga terlihat oleh mata batin kita, maka terbukalah “adanya” atau bertemulah kita dengan kebenaran.

Kebenaran menurut konsep Plato terletak pada obyek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk dketahui.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa kebenaran lebih memustakan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu  ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Kebenaran ini dimengerti sebagai adanya keseuaian antara subyek penahu dengan obyek uamg diketahui.

Kebenaran menurut kaum Positivisme Logis dibedakan menjadi dua, yaitu:
Kebenaran faktual
Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada atau tidaknya faktual di dunia nyata yang sebagaimana dialami oleh manusia (biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi).  Kebenaran faktual dapat menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi. Kebenaran ini bersifat nisbi (tidak mutlak)

Kebenaran nalar
Kebenaran  nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, akan tetapi dapat menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan yang faktual. Kebenaran ini terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya didasarkan pada penyimpulan deduktif. Kebenaran ini bersifat mutlak.
Selain kedua jenis kebenaran tadi, Thomas Aquinas membagi kebenaran menjadi dua,yaitu:
1.Kebenaran Ontologis (Veritas ontologica)
Kebenaran ontologis adalah kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material, yang meskipun ada untuk diketahui. Misalnya : kebenaran tentang adanya Tuhan, kebenaran tentang keabadian jiwa.
2.Kebenaran Logis (Veritas logica)
Kebenaran logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia, dalam kebenaran logisi ini harus ada kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

Kedudukan kebenaran
1.Kedudukan kebenaran pengetahuan dalam pandangan Plantonis (pengikut aliran Plato)

2.Kedudukan kebenearan ini lebih diletakkan pada obyek atau kenyataan yang diketahui.

3.Kedudukan kebenaran dalam pandangan Aristotelian (pengikut aliran Aristoteles)

4.Kedudukan kebenaran ini diletakkan pada subyek. Kedudukan dalam pandanga Aristotelian  lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

5.Kedudukan kebenaran dari Kaum Eksistensial

6.Kaum ini menyatakan bahwa kebenaran merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.

7.Kedudukan kebenaran ilmiah

Kesahihan dan  Kekeliruan.
Kekeliruan berbeda dengan kesahihan. Kekeliruan berarti menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau  menyangkal apa yang dinyatakan benar. Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari kekeliruan.
Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengindentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi, padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup, padahal sudah. Kekeliruan dapat dikarenakan gegabah (tidak hati-hati) dalam menegaskan keputusan suatu perkara.
Faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan :
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian pada keseluruhan proses
2. Sikap takut salah takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap gegabah dalam melangkah. Sikap yang pertama ini menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran, padahal sebenarnya sudah cukup bukti, sedangkan sikap yang kedua adalah sikap yang terlalu cepat merasa cukup dalam menegaskan benar atau salahnya suatu perkara.



(Sumber : Power Point dosen kbk filsafat materi III)

Oke itulah pemaparannya. Semoga beguna untuk semua visitors. Salam damai.